Solusi Sampah Nasional: Program WtE Danantara Fokus Atasi Limbah Pangan dan Emisi GRK

Program Waste-to-Energy (WtE) Danantara Indonesia dinilai jadi solusi atasi 56,6 juta ton sampah nasional.

bogortraffic.com, JAKARTA — Program Waste-to-Energy (WtE) yang dipimpin oleh Danantara Indonesia kini menjadi sorotan sebagai solusi strategis dalam mengatasi krisis sampah nasional, khususnya limbah pangan yang mendominasi timbulan sampah di Indonesia.

Langkah ini dinilai krusial untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, menyatakan dukungannya terhadap inisiasi ini, namun menekankan pentingnya prinsip keberlanjutan.

“Masalah sampah yang sudah lama dan terus meningkat ini memang harus dicarikan jalan keluar. Kami melihat program Waste-to-Energy bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengatasi masalah sampah,” kata Said Abdullah di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Ancaman Emisi dan Kerugian Ekonomi

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan timbulan sampah nasional pada 2025 telah menyentuh angka 56,6 juta ton. Komposisi terbesar berasal dari limbah rumah tangga, dengan sisa makanan mencapai 40,79 persen dan plastik 19,95 persen.

Lebih mengkhawatirkan, emisi dari timbulan food loss and waste (FLW) periode 2000–2019 diperkirakan mencapai 1.702,9 Mt CO₂ atau setara 23 persen dari total emisi nasional. Dampak ini tak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp213–551 triliun per tahun atau setara 4–5 persen PDB Indonesia.

Melihat fakta tersebut, Said mendorong adanya edukasi partisipatif bagi masyarakat luas.

“Pendekatannya tidak hanya sekadar kampanye memilah sampah tapi mulai memberikan kesadaran bagaimana sampah itu menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan,” ujar pengisi acara gelar wicara Sapa Bumi RRI Pro 2 FM Bogor ini.

Kunci Sukses: Partisipasi Publik dan Ruang Dialog

Agar program WtE Danantara Indonesia berjalan efektif, keterlibatan warga sejak tahap awal menjadi faktor penentu. Pendekatan partisipatif diperlukan agar kemanfaatan energi yang dihasilkan dapat dirasakan langsung oleh publik.

“Secara ideal, sebuah program itu harus bisa melibatkan banyak pihak. Paling tidak dalam proses awal, Danantara bisa memastikan adanya partisipasi publik secara terbuka bagi program Waste-to-Energy ini,” kata lulusan Program Studi Komunikasi dan Pembangunan Pedesaan IPB ini.

Menanggapi adanya dinamika pro dan kontra, Said menyarankan Danantara untuk membuka ruang dialog guna menjelaskan potensi serta risiko dari pengelolaan sampah menjadi energi ini.

Adopsi Teknologi Global dan Keamanan Lingkungan

Said juga menekankan pentingnya standar tinggi dalam aspek keamanan lingkungan dengan mengacu pada negara-negara maju yang sukses menerapkan sistem serupa.

“Harus ada benchmark yang jelas. Lalu, pastikan bahwa kehadiran program ini bisa memberikan nilai manfaat dan ruang partisipasi secara terbuka kepada masyarakat. Perhatikan juga aspek keamanan lingkungannya. Ketika semua itu bisa dijalankan, rasanya tak perlu ada yang menyangsikannya,” pungkas Said.

Dengan adopsi teknologi dari negara seperti Jepang, Singapura, Denmark, maupun Jerman, program WtE diharapkan mampu menjawab tantangan sampah nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi hijau di Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan