bogortraffic.com, JAKARTA – Anggota Komisi XI DPR Fraksi PAN, Primus Yustisio meminta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo untuk mempertimbangkan mundur dari jabatannya, lantaran dinilai tidak bisa mengendalikan nilai tukar Rupiah yang terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
“Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia sebagai tokoh utamanya harus gentleman Pak. Harus berani melawan. Ada apa ini? Kenapa ini? Pak Perry yang saya hormati kadang, kadang Pak kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan Pak. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri,” ujar Primus dalam Rapat Kerja Komisi XI dengan BI, Jakarta, Senin (18/5).
Permintaan agar Gubernur Bank Indonesia mundur, menurut Primus, bukan disampaikan tanpa alasan.
Ia menilai kondisi ekonomi nasional saat ini menunjukkan adanya anomali, sebab pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61% seharusnya mampu menjadi penopang penguatan nilai tukar rupiah serta menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
“Karena kalau kita melihat apa yang terjadi sekarang yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia, itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen. Tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok. Bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar,” jelasnya.
Ia menyebut nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga berada di level terendah terhadap dolar AS. Selain itu, ia juga menilai kinerja pasar saham domestik tertinggal dibandingkan negara lain yang mulai pulih pasca gejolak global akibat konflik geopolitik sejak akhir Februari lalu.
“Indeks kita juga habislah. Merosot turun. Di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudali itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi. Pada seluruhnya. Dan mereka sudah rebound. Bahkan sudah surplus. Dan Indonesia saat ini masih minus. Lebih dari 20%. Ini kan bagaimana global mempertanyakan salah satu, ada banyak faktor,” tegasnya.
Primus juga menyoroti pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang negara lain seperti dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, hingga euro.
“Tapi faktanya dan ironisnya Pak ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapur, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Rial, apalagi Hongkong, dolar, Euro, saya masih ingat Pak, Euro waktu awal-awal tahun 2006 itu Rp7.000 per Euro. Sekarang hampir Rp19.000. Hampir Rp20.000,” paparnya.
“Nah ini ini kan harus kita lihat dengan realita Pak. Kita tidak bisa berdiam diri. Apa yang terjadi saat ini menurut saya pribadi Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust. Bank Indonesia sudah menyampingkan kredibilitasnya,” tambahnya.
Lebih lanjut, Primus menilai kondisi tersebut telah menggerus tingkat kepercayaan publik terhadap BI. Menurutnya, langkah mundur justru dapat menjadi bentuk tanggung jawab moral apabila pimpinan merasa tidak mampu menjalankan tugas dengan baik.
“Sehingga jika anda memang mundur dari jabatan, justru Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang. Kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik seperti itu. Tidak ada salahnya,” tutup Primus