bogortraffic.com, KAIRO — Inovasi inklusif dari Indonesia kembali mencuri perhatian dunia. Simulasi Al-Qur’an Bahasa Isyarat Indonesia menjadi magnet utama bagi pengunjung Paviliun Indonesia di ajang bergengsi Cairo International Book Fair (CIBF) ke-57 di Kairo, Mesir.
Inovasi ini dinilai unik dan menjadi yang pertama di dunia karena mampu mengisyaratkan lafaz dan huruf Al-Qur’an secara detail dengan tetap mempertahankan aspek harakat serta kaidah tajwid.
Pentashih Mushaf Al-Qur’an Isyarat Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Hilma Rosyida Ulya, menjelaskan bahwa metode ini merupakan terobosan baru yang berbeda dari praktik global sebelumnya.
“Ini pertama di dunia Al-Qur’an diisyaratkan pada level lafaz dan huruf, dengan tetap memperhatikan harakat dan tajwidnya. Tujuannya agar Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (PDSRW) dapat membaca Al-Qur’an secara tartil,” ujar Hilma di Kairo, Selasa (3/2/2026).
Sejarah Pengembangan dan Produksi
Mushaf ini dikembangkan sejak 2018 atas inisiasi Ida Zulfiya Choiruddin dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kemenag. Prosesnya melibatkan kolaborasi erat dengan Majelis Ta’lim Tuli Indonesia (MTTI) dan DPP Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI).
Setelah melalui proses panjang, mushaf ini resmi naik cetak pada 2024 dan rampung pada 2025 dengan total produksi 2.000 set mencakup 30 juz. Selain versi fisik, masyarakat juga dapat mengaksesnya melalui aplikasi Qur’an Kemenag.
Respons Positif dari Pakar Mesir
Kehadiran Al-Qur’an Isyarat ini menjawab kebutuhan Teman Tuli yang selama ini hanya mendapatkan akses pada isyarat makna ayat, bukan pelafalan huruf. Demonstrasi di Paviliun Indonesia sukses menarik minat para ahli bahasa isyarat dan akademisi di Mesir.
“Simulasi ini bertujuan untuk memperkenalkan Al-Qur’an Isyarat, khususnya bagi PDSRW di Mesir, sekaligus bagi pengunjung dengar yang datang ke Paviliun Indonesia,” kata Hilma.
Ia menambahkan bahwa para doktor dan ahli di Mesir sangat tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut.
“Teman Tuli di Mesir merasa senang mengetahui adanya perhatian berupa media yang memungkinkan mereka membaca Al-Qur’an dengan tartil,” ujarnya.
Simbol Inklusivitas Islam Indonesia
Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Lubenah, menegaskan bahwa fitur ini adalah salah satu yang paling ikonik dan membuktikan kepedulian tinggi Indonesia terhadap aksesibilitas agama.
“Banyak pengunjung yang tertarik mempelajari Al-Qur’an bahasa isyarat. Ini menjadi bukti bahwa Islam Indonesia memiliki kepedulian kuat terhadap inklusivitas,” kata Lubenah.
Antusiasme tidak hanya datang dari komunitas Teman Tuli, tetapi juga dari warga lokal Mesir dan Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) yang berbondong-bondong mengikuti simulasi isyarat huruf, harakat, hingga praktik lafaz basmallah.





