bogortraffic.com, SENGGI – Ancaman kekurangan energi kronis pada ibu hamil dan indikasi anemia pada remaja putri menjadi perhatian serius di wilayah transmigrasi Senggi, Papua.
Merespons kondisi tersebut, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar serangkaian kegiatan pendidikan gizi dan pencegahan stunting bagi masyarakat setempat.
Kader Malaria Kampung Woslay SP2, Veronika, menyambut baik edukasi praktis yang diberikan oleh tim akademisi tersebut.
“Ilmu ini akan kami gunakan supaya ke depannya kami bisa menerapkan pada masyarakat tentang pentingnya stunting di masyarakat, supaya ke depannya juga Indonesia menjadi Indonesia yang sehat,” ujarnya.
Kepala UPTD Puskesmas Senggi, Antonius Hamong, menilai keterlibatan mahasiswa dan akademisi sangat membantu kerja tenaga medis di daerah terpencil.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena kita berbicara tentang stunting, yang mana dalam hal ini tidak hanya menjadi tugas tenaga kesehatan, namun dengan kolaborasi bersama lintas sektor. Ini sangat membantu saya sebagai tenaga kesehatan untuk melakukan kolaborasi dengan masyarakat,” katanya.
Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot UNDIP, Prof. Dr. Diana Nur Afifah, menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang luas dan multidimensional.
“Stunting bukan hanya persoalan kekurangan asupan gizi, tetapi berkaitan erat dengan kesehatan ibu dan anak, penyakit infeksi, sanitasi, pola pengasuhan, pendidikan, hingga akses terhadap layanan kesehatan. Banyak sekali masukan dari peserta yang ingin ikut berkontribusi pada penanganan stunting di wilayah Distrik Senggi ini,” jelasnya.
Upaya ini sejalan dengan arahan Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengenai pentingnya investasi kualitas manusia dalam pembangunan.
“Pada akhirnya, semua bergantung pada kualitas SDM kita. Jika unggul dan berintegritas, maka sumber daya yang kita miliki dapat dikelola sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat,” kata Menko AHY.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, turut mengapresiasi dan terus mendorong aksi nyata para relawan pendamping di kawasan transmigrasi.
“Saya memberikan satu dorongan kepada seluruh peserta Tim Ekspedisi Patriot: bergeraklah setiap hari. Waktu kita terbatas, hanya empat bulan. Berikan totalitas dan lakukan yang terbaik selama berada di kawasan transmigrasi. Harus ada sesuatu yang dikerjakan, ada dampaknya, dan ada manfaatnya,” kata Menteri Iftitah.





