bogortraffic.com, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan bahwa kebutuhan anggaran untuk program penanggulangan tuberkulosis (TBC) pada tahun 2025 meningkat menjadi Rp2,4 triliun. Jumlah ini naik dari alokasi anggaran tahun 2024 yang sebesar Rp2,27 triliun.
“Secara anggaran ada kenaikan sedikit dari 2024, (bertambah sekitar) Rp200 miliar di tahun 2025,” ujar Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Murti Utami, dalam Rapat Panitia Kerja (Panja) Pengawasan Jaminan Kesehatan Nasional bersama Komisi IX DPR RI, Rabu (7/5/2025) di Jakarta.
Murti menjelaskan bahwa anggaran tersebut akan difokuskan pada tiga aspek utama: penemuan kasus, pengobatan, dan pencegahan.
Target penemuan kasus TBC ditingkatkan dari 856.420 pasien pada 2024 menjadi 981.000 pasien di 2025 dengan anggaran sebesar Rp1,47 triliun. Sementara itu, target pengobatan naik menjadi 931.950 pasien dari sebelumnya 788.000, meski alokasi anggarannya turun menjadi Rp633 miliar. Untuk program pencegahan, jumlah sasaran ditingkatkan menjadi 100.000 orang dari tahun sebelumnya 79.008, dengan anggaran Rp182 miliar.
Turunnya anggaran pengobatan dijelaskan Murti sebagai hasil dari perbaikan sistem tata kelola pengadaan obat yang kini dilakukan melalui satu pintu, yaitu Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Farmalkes). Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan stok obat yang masih tersedia di daerah hingga Februari 2026.
“Jadi, kami melihat kembali dan menghitung kembali kebutuhan obat itu. Kalau stok masih cukup, kita akan bahas lagi bersama Farmalkes untuk kebutuhan di 2026 dan 2027,” ujarnya.
Sementara itu, anggaran pencegahan juga mengalami penurunan dari Rp204,82 miliar menjadi Rp182 miliar, mengingat telah dimanfaatkannya sistem e-learning dan digitalisasi pelatihan. Dana yang tersedia akan digunakan untuk penelitian vaksin dan pengadaan tuberkulin.
Di luar dana APBN, Kemenkes juga menerima bantuan hibah dari mitra internasional. Sebanyak 24 unit alat X-ray dari USAID kini sedang dalam proses izin keluar di Pelabuhan Tanjung Priok dan akan dialokasikan untuk rumah sakit TNI dan Polri. Selain itu, 27 unit X-ray tambahan dari Global Fund direncanakan untuk RSUD di berbagai daerah.
Murti juga menyampaikan evaluasi capaian program TBC tahun 2024. Treatment enrollment untuk TBC sensitif obat (SO) tercatat 92 persen dari target, dan TBC resisten obat (RO) mencapai 79 persen dari target 90 persen. Namun, cakupan terapi pencegahan TBC (TPT) masih rendah, hanya 19,4 persen dari target 50 persen.





