bogortraffic.com, BOGOR – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, prospek perekonomian Indonesia memasuki tahun 2026 dinilai tetap kuat. Mirae Asset Sekuritas menyampaikan bahwa kekuatan tersebut ditopang oleh stabilitas makro, konsumsi domestik yang solid, serta prospek komoditas yang masih konstruktif.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin baik, potensi penguatan rupiah, serta dorongan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi fondasi kuat bagi sentimen pasar tahun depan.
“Sektor komoditas khususnya emas, batu bara, dan nikel diproyeksikan tetap memainkan peran strategis dalam menopang kinerja eksternal Indonesia dan memberikan peluang investasi bagi pelaku pasar,” ujarnya dalam siaran pers, dikutip Senin (8/12/2025).
Ekonomi Indonesia Diprediksi Tetap Stabil
Berdasarkan proyeksi Mirae Asset, ekonomi nasional diperkirakan tumbuh 5,3 persen pada 2026 dan 5,4 persen pada 2027, dengan inflasi stabil di kisaran 2,5 persen. Nilai tukar rupiah diperkirakan menguat menuju Rp16.500 per USD pada akhir 2026, seiring tren pelemahan indeks DXY dan membaiknya koordinasi fiskal–moneter.
Rully menyebut, tahun 2026 akan dibayangi perlambatan ekonomi China, meningkatnya proteksionisme AS, dan berlanjutnya pemangkasan suku bunga di negara maju. Namun Indonesia dinilai tetap tangguh karena permintaan ekspor komoditas utama seperti emas, batu bara, dan ferroalloys masih menunjukkan ketahanan.
Divergensi Komoditas 2026, Emas Tetap Jadi Primadona
Senior Research Analyst Mirae Asset, Farras Farhan, mengungkap bahwa tahun 2026 akan menjadi momentum divergensi yang kuat antar komoditas. Menurutnya, emas akan tetap menjadi aset unggulan.
“Emas diperkirakan tetap menjadi aset unggulan, dengan harga yang berpotensi bertahan di atas USD4.000 per ons, ditopang ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, permintaan bank sentral global yang terus meningkat, serta pemulihan arus masuk Exchange-Traded Fund (ETF),” jelas Farras.
Ia menambahkan bahwa:
“Emas menjadi aset yang paling defensif dan atraktif tahun depan, sementara batu bara tetap solid dari sisi arus kas dan nikel menghadapi proses penyesuaian pasar yang panjang.”
Saham Emiten Unggulan Ikut Diuntungkan
Beberapa emiten diproyeksikan mendapat sentimen positif dari kondisi komoditas konstruktif:
Emas
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
Keduanya dinilai mendapat manfaat dari tingginya harga emas.
Batu Bara
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
- PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR)
ADMR juga disebut solid berkat proyek hilirisasi aluminium hijau.
Nikel
- PT Harita Nickel Tbk (NCKL)
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)
NCKL dinilai menarik berkat integrasi rantai pasok, sementara AADI digadang prospektif sebagai emiten berorientasi dividen.
Sektor Lain Juga Bertumbuh: Konsumsi & Telekomunikasi
Selain komoditas, Mirae Asset menilai dua sektor lain berpotensi mencatat kinerja menguat pada 2026:
- Sektor konsumsi, didorong perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkatkan permintaan protein dan produk FMCG.
- Telekomunikasi dan infrastruktur digital, yang dinilai akan mendapat re-rating seiring tren penurunan suku bunga.
“Sementara tren penurunan suku bunga membuka peluang re-rating pada sektor menara telekomunikasi dan jaringan fiber,” kata Farras.





