bogortraffic.com, JAKARTA – Kawasan Tebet dikenal sebagai episentrum kuliner yang sangat dinamis. Di tengah gempuran tren Food & Beverage (F&B) kekinian, sebuah nama legendaris sempat berada di ambang kepunahan.
Warteg Warmo, tempat makan 24 jam yang telah menjadi ikon tradisi kuliner warga Jakarta, nyaris tutup permanen sebelum akhirnya berhasil bertahan lewat transformasi digital.
Perjalanan baru Warteg Warmo dimulai empat tahun lalu saat dikelola oleh Syukur Iman (30). Pemuda berlatar belakang akuntansi ini mengambil keputusan berani untuk mengalihkan profesi dari karyawan swasta menjadi pengusaha demi menyelamatkan warteg bersejarah tersebut.
Iman mengungkapkan bahwa keputusannya mengambil alih Warmo bermula dari kabar mengejutkan bahwa pemilik lama berencana menjual dan menutup usaha tersebut karena tidak sanggup lagi melanjutkannya.
“Saya merasa ada rasa sayangnya dan tanggung jawab gitu terhadap rumah makan yang sudah jadi ibarat ‘rumah’ bagi banyak warga. Di sinilah, saya melihat Warmo bukan rumah makan biasa tetapi warteg legendaris yang ramai dan sudah jadi tradisi yang patut diteruskan,” jelas Iman.
Agar tetap relevan di mata pelanggan muda tanpa kehilangan jati diri, Iman melakukan perbaikan bertahap pada furnitur dan cat bangunan. Dari sisi kuliner, ia mempertahankan menu legendaris seperti Sop Iga, namun menambah inovasi baru.
“Saya memutuskan untuk mempertahankan menu-menu khas Warmo yang sudah jadi andalan, seperti sop iga. Tapi saya juga menambahkan beberapa menu baru supaya tetap relevan buat pelanggan anak muda misalnya chicken teriyaki atau katsu. Selain itu juga terdapat paket-paket menu yang sudah termasuk es teh. Harapannya, strategi ini bisa menarik pelanggan baru tanpa menghilangkan ciri khas Warmo,” urainya.
Tantangan terbesar yang dihadapi Iman justru datang dari sisi operasional. Pada enam bulan pertama, pencatatan manual sering kali menyebabkan selisih saldo dan ketidakteraturan pembukuan.
“Wah, awal-awal cukup rumit. Sering kali ada aja kekurangannya setiap rekap penjualan. Waktu itu pembukuannya belum rapi, masih pakai catatan sendiri, jadi sering nggak balance pas dicek di akhir bulan atau akhir tahun. Saldo sama pencatatan debit–kredit juga kadang belum ketemu,” lanjut Iman.
Setelah melakukan riset mandiri melalui Google dan YouTube, Iman akhirnya memilih menggunakan DANA Bisnis sebagai solusi pembayaran digital melalui QRIS. Keputusan ini didasari oleh laporan keuangan real-time dan biaya MDR yang kompetitif.
Digitalisasi ini terbukti membawa dampak besar. Transaksi menjadi lebih ringkas, terutama pada jam-jam sibuk makan siang dan makan malam.
“Sistem pembayaran digital sangat membantu terutama di jam-jam sibuk seperti makan siang dan makan malam. Karyawan saya tidak lagi repot mencatat manual satu per satu tiap pelanggan dan menghitung kembalian,” kata Iman.
Dengan pembukuan yang kini lebih rapi berkat teknologi, Iman mulai menatap masa depan untuk memperluas jangkauan Warteg Warmo. Ia bercita-cita membuka sistem kemitraan atau franchise.
“Saya ingin suatu hari ini bisa membuka franchise Warmo Tebet, supaya yang bisa menikmati masakan Warmo nggak cuma warga Tebet aja,” ujarnya optimis.
Sebagai penutup, Iman berpesan kepada sesama pelaku UMKM agar tidak takut untuk beradaptasi dengan teknologi sejak dini.
“Yang penting berani mulai. Pakai sistem pembayaran digital itu bikin kerjaan lebih rapi dan lebih cepat. Kita jadi bisa fokus ke usaha ke rasa, pelayanan, dan gimana caranya berkembang,” tutup Iman.






