Zikir Kebangsaan, Menag Ingatkan Makna Kemerdekaan dalam Perspektif Spiritual

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar.

bogortraffic.com, BOGOR – Dalam sebuah acara Zikir dan Doa Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati melampaui kebebasan dari penjajahan fisik.

Kemerdekaan juga berarti pelepasan dari segala bentuk penindasan dan ketertindasan jiwa.

Bacaan Lainnya

Acara yang menjadi pembuka rangkaian Bulan Kemerdekaan ini digelar oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag.

Turut hadir dalam acara ini Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro, serta para tokoh agama dan perwakilan lintas agama.

Menag Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah peristiwa spiritual, bukan hanya momen politik.

Proklamasi yang dibacakan pada hari Jumat, 9 Ramadan 1364 Hijriah, mencerminkan keberkahan dan keterhubungan antara perjuangan kemerdekaan dengan nilai-nilai keimanan.

“Ini bukan kebetulan. Para proklamator menyadari betul bahwa hari itu bukan sekadar tanggal, tapi juga momentum ilahiah. Zikir dan doa menjadi bagian dari kekuatan bangsa ini sejak awal berdiri,” ujar Menag.

Menurut Menag, dalam tradisi Islam, istilah istiqlal adalah kata kunci dari kemerdekaan, yang berarti bebas dari penjajahan dan kekuasaan yang zalim.

“Tanpa istiqlal, tidak mungkin ada hurriyah, tidak mungkin ada tahrir, dan tidak mungkin ada In’itaq. Karena itu, Masjid Istiqlal bukan sekadar bangunan, tetapi nazar bangsa atas nikmat kemerdekaan,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kemerdekaan sejati harus diisi dengan perjuangan untuk menghadirkan keadilan sosial, dengan indikator utama seperti terpenuhinya gizi anak bangsa dan akses pendidikan yang merata.

“Presiden kita selalu menekankan bahwa kemerdekaan tidak sempurna jika masih ada anak-anak kelaparan. Bagaimana masa depan bangsa ini kalau generasi mudanya kekurangan gizi? Maka pemberian gizi sehat dan pendidikan adalah bentuk konkret pengisian kemerdekaan,” tegasnya.

Menag juga menyoroti pentingnya pendidikan berkualitas, salah satunya melalui program Pendidikan Garuda, yang bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat mengakses ilmu global tanpa meninggalkan akar spiritual dan kebangsaannya.

Acara Zikir dan Doa Kebangsaan ini ditutup dengan pembacaan doa dari enam pemuka agama yang hadir, menjadi bukti kuat bahwa keberagaman adalah kekuatan yang menjaga keutuhan NKRI.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan