bogortraffic.com, JAKARTA – Isu utang besar proyek kereta cepat Whoosh (Jakarta-Bandung) kembali mencuat ke permukaan, diiringi pertanyaan serius mengenai transparansi kontrak kerja sama Indonesia-China.
Total investasi proyek ini mencapai 7,27 miliar dolar AS atau setara Rp120,6 triliun.
Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, secara terbuka mempertanyakan isi kontrak proyek Whoosh yang dinilai tertutup bagi publik.
“Kita belum tahu jelas isi kontrak Indonesia dan China dalam proyek ini, bahkan dalam sebuah wawancara, seorang anggota DPR mengatakan tidak tahu isi kontraknya,” ujar Mahfud MD melalui kanal YouTube Mahfud MD Official, pada Sabtu, 25 Oktober 2025.
Guru Besar Hukum Tata Negara itu menyoroti kekhawatiran publik atas ketertutupan dokumen tersebut, lantas mempertanyakan apakah salinan kontrak tersebut bisa diakses publik secara utuh.
Proyek Whoosh digarap oleh konsorsium Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), di mana 75 persen pembiayaannya berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan bunga tetap 2 persen per tahun selama 40 tahun—angka yang sempat disorot karena lebih tinggi dari tawaran Jepang (0,1 persen).
Masalah lain yang membelit Whoosh adalah pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dolar AS atau setara Rp19,9 triliun.
Defisit dana ini mendorong PT KAI, sebagai pemimpin konsorsium BUMN, harus menambah utang baru dari bank China.
Saat ini, PT KAI tercatat memiliki beban utang sekitar Rp6,9 triliun kepada CDB. Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, sempat menegaskan bahwa APBN tidak akan lagi digunakan untuk menanggung kewajiban tersebut.
“Yang jelas saya sekarang belum dihubungi. Kalau di bawah Danantara mereka kan sudah manajemen sendiri, punya dividen sendiri yang rata-rata bisa Rp80 triliun lebih, harusnya mereka sudah di situ jangan di kita lagi (Kemenkeu),” kata Purbaya pada 12 Oktober 2025.
Menko Luhut Binsar Pandjaitan, yang kini menjabat Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), menilai restrukturisasi utang menjadi opsi solusi realistis.
Luhut mengakui proyek Whoosh sejak awal menyimpan banyak masalah yang harus dibenahi.
“Saya terima sudah busuk itu barang. Kemudian kita coba perbaiki, kita audit, BPKP, kemudian kita berunding dengan China,” ujar Luhut pada 18 Oktober 2025.
Luhut menegaskan, restrukturisasi adalah jalan keluar utama tanpa melibatkan APBN dan kini pemerintah sedang menunggu Keputusan Presiden (Keppres) untuk mengesahkan tim restrukturisasi.
Di tengah isu utang, sebagian publik membandingkan Whoosh dengan Saudi Land Bridge.
Proyek di Arab Saudi tersebut membentang sepanjang 1.500 kilometer dengan investasi hanya 7 miliar dolar AS (Rp116,3 triliun), lebih rendah dari Whoosh yang mencapai Rp120,6 triliun untuk panjang trayek hanya 142,3 kilometer.





