bogortraffic.com, BOGOR – Para petani pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Papua Barat, kini tak lagi perlu khawatir hasil panen rusak berjamur akibat cuaca buruk. Tim Ekspedisi Patriot 15 Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkenalkan alat pengering inovatif ramah lingkungan bernama Smart Solar Biomass Dryer yang beroperasi tanpa bahan bakar minyak.
Inovasi ini memanfaatkan energi surya serta limbah sampah di sekitar lingkungan sebagai sumber pemanas. Teknologi ini mampu memangkas durasi pengeringan biji pala dari tujuh hari menjadi hanya dua hari dengan suhu stabil.
Ketua Kelompok Tani Rangkum, Aher Samai, mengapresiasi efisiensi dan kemudahan operasional mesin pengering tersebut di wilayahnya.
“Terkait alat pengering, memang dibutuhkan adanya alat seperti ini yang mana kita tidak perlu khawatir dengan cuaca, misalnya hujan. Selain itu, untuk pengeringannya bisa menggunakan sampah di sekitar dan tidak memerlukan listrik, sehingga bisa digunakan di mana saja. Namun harapannya mesin pengering yang dibuat bisa memuat kapasitas lebih banyak sehingga dapat mengeringkan lebih banyak dan lebih cepat,” ujar Aher Samai, Rabu (23/9/2026).
Dalam satu kali siklus kerja, alat pengering tepat guna ini mampu menampung kapasitas hingga ribuan biji pala.
“Kemudian di atasnya ada space khusus lagi yang dalamnya ada lima tray, tu bisa mengeringkan sekitar seribu biji pala,” ujar Michel Obrien, Perwakilan Tim TEP Universitas Hasanuddin.
Aksi nyata ini sejalan dengan arahan Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang mendorong lahirnya program solutif di daerah transmigrasi.
“Jangan sampai teman-teman Ekspedisi Patriot sudah turun ke lapangan, sudah mendengarkan masyarakat, kemudian berhenti di masalah. Kita harus menghadirkan solusi yang terbaik, relevan, visibel, dan masuk akal,” ujar Menko AHY.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara turut menegaskan pentingnya peran pemuda dalam membawa perubahan berbasis inisiatif.
“Indonesia membutuhkan SDM yang tidak lagi menunggu perintah, tetapi mampu melihat masalah, menganalisisnya, lalu menghadirkan solusi. Itulah yang kami sebut sebagai Disiplin Inisiatif,” tegas Mentrans.





