China Peringatkan Tarif AS Berisiko Bawa Dunia Kembali ke “Hukum Rimba”

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif tentang "tarif timbal balik" di Rose Garden Gedung Putih di Washington, DC, Amerika Serikat pada 2 April 2025.

bogortraffic.com, CANBERRA — Duta Besar China untuk Australia, Xiao Qian, memperingatkan bahwa langkah Amerika Serikat (AS) memberlakukan tarif secara sepihak terhadap berbagai negara berisiko membawa dunia kembali ke era “hukum rimba,” di mana negara kecil dan lemah menjadi korban utama.

Peringatan itu disampaikan Xiao dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan oleh harian The Australian pada Jumat (25/4).

Bacaan Lainnya

Xiao menyoroti bahwa AS belakangan ini tanpa pandang bulu menetapkan tarif terhadap semua mitra dagangnya.

Langkah tersebut, menurutnya, memaksa negara-negara lain untuk melakukan negosiasi tarif yang disebut “resiprokal” dan menuntut konsesi signifikan dari setiap pihak.

“Jika AS dibiarkan bertindak sewenang-wenang, dunia akan kembali ke ‘hukum rimba’, di mana yang kuat memangsa yang lemah, dan semua negara akan menjadi korban,” tulis Xiao.

Dubes China itu mengingatkan bahwa delapan puluh tahun lalu, sebagai respons terhadap kehancuran Perang Dunia II, komunitas internasional mendirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mencegah perang, menyelesaikan perselisihan, dan mendorong pembangunan global.

Sistem internasional berbasis PBB, menurutnya, telah memungkinkan semua negara berinteraksi secara setara dan berkontribusi pada kemajuan bersama.

Namun saat ini, lanjut Xiao, AS justru memberlakukan tarif secara luas dan menjalankan politik hegemonik serta penindasan unilateral di bidang ekonomi dan perdagangan.

Ia menilai bahwa kepatuhan dan kompromi terhadap tekanan semacam itu tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan justru memperburuk keadaan.

“Dalam menghadapi hegemoni, sikap patuh dan kompromi tidak akan menghasilkan apa-apa. Konsesi berlebihan hanya akan membuat pihak penekan semakin berani,” tegasnya.

Xiao juga menegaskan bahwa China akan terus menjadi pendukung teguh multilateralisme dan tatanan internasional berbasis hukum.

China, katanya, berkomitmen untuk menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan negosiasi, serta siap melindungi hak-haknya demi mencegah dunia kembali ke situasi di mana kekuatan menjadi penentu kebenaran.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan