bogortraffic.com, BANDUNG – Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat, Bey Triadi Machmudin, menemukan inovasi menarik dari para petani saat meninjau potensi kekeringan di Kabupaten Bogor pada Rabu ini. Para petani di Desa Tegal Panjang, Kecamatan Cariu, berhasil menghemat biaya operasional pompa air hingga 70 persen dengan menggunakan elpiji 3 kilogram (kg) sebagai pengganti bensin.
“Dengan memakai elpiji, satu hari yang biasanya menggunakan 10 liter bensin petani harus mengeluarkan Rp100.000-Rp120.000. Sementara kalau pakai gas melon itu hanya Rp25.000, jadi ada penghematan sekitar 70 persen,” kata Bey dalam keterangannya di Bandung, Rabu (31/7/2024).
Namun, ia juga melaporkan ke Kementerian Pertanian bahwa harga pupuk yang harus dibeli petani mencapai Rp160.000.
Peninjauan di Desa Tegal Panjang ini bertujuan untuk menyerap aspirasi petani dan melihat situasi di lapangan guna mengantisipasi ancaman kemarau panjang tahun 2024. Bey menemukan bahwa kekeringan panjang pada tahun 2023 lalu telah menyebabkan pergeseran musim tanam.
“Tahun ini panen kedua, tapi musim tanamnya baru satu kali, terakhir itu akhir tahun lalu baru panen bulan Maret, ini yang kedua. Biasanya mereka akan menanam lagi akhir tahun, atau awal tahun,” ujar Bey.
Dengan produktivitas mencapai 5,6 ton gabah kering giling dan harga jual Rp6.000 per kilogram, para petani berencana mempercepat musim tanam pada Agustus 2024 ini, didukung oleh sistem irigasi yang mengandalkan aliran Sungai Cihoe.
“Dengan sistem pompanisasi yang ada, mereka akan menanam lagi Agustus dengan bantuan pompa. Biasanya, mereka akan menyewa pompa, tapi saya akan upayakan mereka mendapat bantuan pompa dari Kementerian Pertanian,” tegas Bey.
Bey menilai penting untuk mendapatkan laporan langsung dari para petani, karena informasi dari mereka sangat berharga dalam menghadapi ancaman kemarau panjang. Ia juga memastikan temuan di lapangan akan dilaporkan langsung kepada Irjen Kementerian Pertanian, baik terkait harga pupuk yang masih mahal maupun bantuan pompanisasi.
Petani di Tegal Panjang bersedia menerima bantuan pompanisasi, meski masih menggunakan bahan bakar bensin. Mereka mengeluhkan kesulitan mendapatkan bensin yang jauh dan kadang-kadang ditolak di SPBU.
“Mereka kerepotan beli bensin, harus pakai jerigen, kadang-kadang di SPBU ditolak. Kalau pakai elpiji itu praktis karena tinggal beli di warung, polusi juga berkurang. Ini jadi temuan di lapangan, sudah saya laporkan ke Irjen Kementan,” ucap Bey.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2024 di sebagian besar wilayah Indonesia akan mundur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan puncaknya terjadi pada bulan Juli dan Agustus 2024.






