BPIP Gelar Penguatan Nilai Pancasila di Tarakan: Fokus Pendidikan Karakter dan Literasi Digital

Kepala BPIP Yudian Wahyudi

bogortraffic.com, BOGOR — Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjadikan Kota Tarakan sebagai salah satu titik strategis dalam penguatan ideologi negara. Kegiatan bertajuk “Penguatan Nilai-Nilai Pancasila sebagai Ideologi Negara dan Pondasi Bangsa Menuju Indonesia Raya” tersebut digelar pada Selasa (25/11), bersamaan dengan momentum peringatan Hari Guru Nasional.

Acara ini dihadiri ratusan peserta dari unsur pemerintah daerah, tokoh agama, organisasi masyarakat, pemuda, dan pendidik.

Bacaan Lainnya

Kepala BPIP Yudian Wahyudi menegaskan bahwa penguatan karakter bangsa kini menjadi prioritas nasional. Menurutnya, strategi pembangunan bangsa harus diselaraskan dengan penguatan ekosistem pendidikan.

“Guru adalah pilar pembentukan karakter bangsa. Di momentum Hari Guru Nasional ini, kita perlu mengingat bahwa tanpa guru yang berpegang pada nilai-nilai Pancasila, mustahil melahirkan generasi yang berintegritas,” kata Yudian.

Ia menambahkan bahwa pembangunan manusia Indonesia tidak hanya fokus pada kompetensi teknis, tetapi juga moral dan etika berlandaskan nilai luhur bangsa.

“Pembangunan manusia Indonesia tidak hanya soal keterampilan teknis, tetapi karakter dan integritas. Pancasila adalah fondasinya,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Yudian juga menyoroti dinamika sosial di kota multikultural dan daerah perbatasan seperti Tarakan yang memerlukan pendekatan pembinaan ideologi yang lebih intens dan sistematis.

Sementara itu, Wali Kota Tarakan, Khairul, menyampaikan bahwa kegiatan BPIP sangat relevan dengan situasi wilayahnya. Ia menegaskan bahwa keberagaman di Tarakan telah menjadi bagian dari identitas sosial yang terpelihara dengan baik.

“Keragaman di Tarakan adalah modal sosial. Warga hidup saling menghormati, dan ini mencerminkan nilai Pancasila yang sudah teruji,” ujarnya.

Khairul menekankan perlunya memperkuat literasi kebangsaan untuk menjaga keutuhan sosial di tengah arus urbanisasi dan mobilitas penduduk yang tinggi.

Di sisi lain, Deputi Bidang Hubungan Antarlembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP, Prakoso, menyoroti tantangan baru dalam pembinaan ideologi bangsa, terutama dari ruang digital.

“Pancasila tidak boleh berhenti sebagai slogan. Ruang digital mempercepat penyebaran intoleransi. Ini harus dihadapi dengan sosialisasi yang lebih masif dan adaptif,” katanya.

Prakoso menegaskan bahwa BPIP akan memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah dan institusi pendidikan untuk memperkuat literasi digital berbasis Pancasila, khususnya bagi kelompok pendidik dan generasi muda.

Kegiatan ini juga menghadirkan sesi diskusi terkait toleransi, teknologi, serta daya tahan mental generasi muda dalam menghadapi derasnya arus informasi.

BPIP memastikan program ini tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi akan dilanjutkan dengan pendampingan dan program lanjutan di Tarakan dan wilayah Kalimantan Utara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan