bogortraffic.com, JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan terkait lonjakan aktivitas influenza di Indonesia. Penguatan sistem surveilans, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, serta perlindungan bagi kelompok rentan dinilai perlu menjadi prioritas utama tanpa memicu kepanikan publik.
Hingga minggu ke-38 tahun 2026, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat proporsi positif influenza dalam surveilans nasional mencapai sekitar 56 persen.
“Peningkatan kasus tentu perlu menjadi perhatian, tetapi masyarakat tidak perlu panik. Yang harus diperkuat adalah kewaspadaan, surveilans, kesiapan fasilitas kesehatan, dan komunikasi publik yang konsisten,” ujar Netty dalam keterangan resminya, Rabu (30/9/2026).
Politisi PKS ini memberikan perhatian khusus pada kelompok anak usia dini (0–4 tahun) yang mendominasi sekitar 39 persen dari total temuan kasus.
“Anak usia dini harus menjadi perhatian khusus karena proporsi temuan kasusnya cukup tinggi. Edukasi kepada orang tua mengenai pengenalan gejala awal, kapan harus membawa anak ke fasilitas kesehatan, serta pembiasaan pola hidup bersih dan etika batuk harus makin digencarkan,” jelas Netty.
Menanggapi ditemukannya influenza A(H3N2) subclade K di 20 provinsi, Netty mendorong pemerintah menyampaikan penjelasan secara transparan, berbasis data, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
“Jangan sampai istilah-istilah teknis justru membuat masyarakat salah memahami situasi. Pemerintah perlu memberikan penjelasan yang sederhana, berbasis data, dan mudah dipahami publik,” ungkapnya.
Netty turut mengapresiasi imbauan Kemenkes agar warga tidak melakukan panic buying obat antivirus seperti oseltamivir tanpa pengawasan medis.
“Jangan sampai kekhawatiran masyarakat justru mendorong aksi borong obat atau konsumsi mandiri tanpa pemeriksaan dokter. Pengobatan harus selalu mengikuti indikasi dan rekomendasi tenaga kesehatan,” tegas Netty.
“Komisi IX terus mendorong penguatan sistem surveilans agar pemerintah mampu mendeteksi perubahan pola influenza lebih cepat dan faskes siap merespons lonjakan kebutuhan layanan. Kewaspadaan harus meningkat, tetapi kepanikan jangan sampai terjadi,” pungkasnya.





