Jepang-AS Sepakat Perkuat Kerja Sama Keamanan Siber di Shangri-La Dialogue 2025

Keamanan Siber

bogortraffic.com, BOGOR Jepang dan Amerika Serikat sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang keamanan siber, menyusul meningkatnya ancaman serangan digital global. Kesepakatan ini tercapai dalam pertemuan bilateral antara Menteri Pertahanan Jepang Jenderal Nakatani dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Sabtu (31/5) di sela Shangri-La Dialogue 2025 yang digelar di Singapura.

Pertemuan ini merupakan pertemuan tatap muka pertama keduanya sejak Maret lalu di Tokyo, dan menjadi momentum penting dalam menyelaraskan strategi keamanan siber kedua negara sekutu tersebut.

Bacaan Lainnya

“Kami sepakat untuk memperkuat kolaborasi di bidang keamanan siber sebagai bagian dari komitmen bersama menjaga stabilitas kawasan,” kata Jenderal Nakatani dalam pernyataannya.

Kesepakatan tersebut datang tak lama setelah Jepang mengesahkan undang-undang keamanan siber pada Mei 2025. UU ini mengatur kebijakan “pertahanan siber aktif” yang memungkinkan pemerintah memantau komunikasi daring, serta memberikan kewenangan kepada kepolisian dan Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) untuk mengakses dan menetralisir server sumber serangan siber.

Langkah ini dinilai sebagai jawaban atas semakin kompleksnya lanskap ancaman digital yang berpotensi mengganggu infrastruktur vital dan keamanan nasional.

Meski pertemuan berlangsung intensif, Nakatani menyebut bahwa Hegseth tidak membahas isu permintaan tambahan kontribusi Jepang dalam pembiayaan pertahanan bersama. Isu ini sebelumnya mencuat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut perjanjian keamanan Jepang-AS sebagai “tidak adil” dan menuntut kontribusi lebih besar dari Tokyo.

Namun, dalam forum kali ini, kedua menteri tampak lebih fokus membahas agenda bersama di ranah teknologi dan keamanan digital.

Shangri-La Dialogue merupakan forum pertahanan dan keamanan tahunan yang diikuti oleh negara-negara kawasan Asia-Pasifik dan mitra global. Tahun ini, forum berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat (30/5) hingga Minggu (1/6), dan menjadi ajang penting untuk membangun konsensus strategis di tengah situasi geopolitik yang semakin dinamis.

Kerja sama siber antara Jepang dan AS diharapkan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pertahanan digital regional dan memperkuat ketahanan dunia maya menghadapi ancaman dari aktor negara maupun non-negara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan