bogortraffic.com, BOGOR – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), jalur penyeberangan Jawa–Bali–Lombok kembali menjadi nadi utama mobilitas masyarakat.
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan seluruh layanan di lintasan strategis tersebut berjalan tertib, andal, dan selaras dengan kebijakan regulator, khususnya KSOP dan BPTD di masing-masing wilayah.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menyampaikan bahwa penyeberangan pada periode Nataru memiliki makna lebih dari sekadar perjalanan fisik, melainkan ruang untuk kembali berkumpul dan merayakan kebersamaan.
Karena itu, ASDP menyiapkan rangkaian layanan berlapis agar masyarakat dapat melintasi Jawa–Bali–Lombok dengan lancar, aman, dan selamat.
Di kawasan Timur, Pelabuhan Lembar menjadi gerbang vital menuju NTB dan Bali, dengan tingginya mobilitas penumpang dan kendaraan yang dilayani KMP Portlink II dan KMP Roditha.
General Manager ASDP Cabang Lembar, Handoyo Priyanto, menjelaskan bahwa pengaturan jumlah kapal akan mengikuti tingkat kepadatan, didukung penerapan delaying system di area parkir PDS dan Terminal Segenter.
Arus puncak diperkirakan terjadi pada 20–22 serta 27–29 Desember, dan arus balik pada 3–5 Januari 2026.
Sementara di sisi barat, Pelabuhan Ketapang (Jawa Timur) memperkuat pola operasi melalui konsolidasi dengan Kementerian Perhubungan.
ASDP bersama KSOP, BPTD, dan instansi terkait menyiapkan manajemen antrean, opsi penambahan trip kapal, rekayasa lalu lintas, serta pengalihan kendaraan ke jalur alternatif bila dibutuhkan.
Pola operasi adaptif ini diharapkan menjaga kelancaran perjalanan pada lintasan Ketapang–Gilimanuk sepanjang periode Nataru.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menegaskan bahwa kekuatan utama layanan Nataru tahun ini terletak pada digitalisasi Ferizy, memungkinkan pembelian tiket online sejak H-60.
Windy menambahkan, ASDP berkomitmen menghadirkan layanan prima melalui Ferizy dengan berbagai kemudahan, termasuk penyederhanaan skema refund dan reschedule.
Penalti refund yang sebelumnya terdiri dari dua potongan kini hanya satu kali potongan sebesar 25% dari harga tiket.
Hal serupa berlaku untuk reschedule, di mana pengguna hanya dikenakan potongan 10% dari harga tiket, jauh lebih ringan dibandingkan skema sebelumnya.
Kemudahan ini diharapkan memberi fleksibilitas lebih besar bagi masyarakat dalam merencanakan perjalanan akhir tahun.
Dengan penguatan operasional, koordinasi intensif lintas instansi, serta digitalisasi layanan yang semakin matang, ASDP optimistis penyeberangan di jalur Jawa–Bali–Lombok selama Nataru akan berjalan lebih lancar dan terkendali.






