bogortraffic.com, JAKARTA – Pendiri ESQ Corp dan Universitas Ary Ginanjar, Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian, menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi, di Menara 165, Jakarta, Selasa (22/9/2026). Pertemuan dua sahabat lama ini menegaskan kembali pentingnya merawat persaudaraan negara serumpun melalui pendekatan nilai budaya, spiritualitas, dan kemanusiaan.
Prof. Ary menyebut sinergi dan hubungan erat antarmanusia ini sebagai bentuk “diplomasi spiritual” yang melampaui sekat politik formal.
“Persahabatan kita tidak melihat jabatan, tetapi persahabatan hati. Dalam keadaan suka maupun duka, hubungan itu tetap terjaga,” ujar Prof. Ary kepada media di Jakarta.
Ia mengenang saat ketegangan Ambalat terjadi, di mana komunikasi personal tetap menjadi jembatan penghubung antara tokoh pertahanan kedua negara. Keberadaan 2,5 juta alumni ESQ di Indonesia dan Malaysia juga diyakini memperkuat fondasi persaudaraan tersebut.
“Beliau menyebutnya diplomasi spiritual. Hubungan Indonesia-Malaysia tidak cukup didekatkan melalui politik saja, tetapi juga melalui hubungan kultural dan spiritual,” jelasnya.
“Alumni ESQ menjadi jembatan kultural dan spiritual antara Indonesia dan Malaysia. Ketika rakyat Indonesia datang ke Malaysia, mereka disambut oleh alumni ESQ. Begitu pula ketika rakyat Malaysia datang ke sini, Menara 165 menjadi rumah persaudaraan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, kedua pihak mendiskusikan peluang kerja sama strategis meliputi pembentukan ASEAN Halal Council dan ESQ Halal Hub, penguatan program Technical and Vocational Education and Training (TVET), hingga penerapan TalentDNA Assessment.
Menghadapi pesatnya kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), Prof. Ary menekankan pentingnya penguatan karakter berbasis keseimbangan intelektual, emosional, dan spiritual.
“Hari ini teknologi berkembang sangat cepat. Justru karena itu, nilai spiritual harus menjadi fondasi untuk membangun manusia seutuhnya, menggabungkan IQ, EQ, dan SQ,” tuturnya.
“Kepentingan spiritual lebih menyatukan daripada kepentingan intelektual, dagang, ataupun politik. Jembatan hati seperti inilah yang perlu terus dijaga untuk merawat kedamaian Asia Tenggara,” pungkasnya.





