bogortraffic.com, BOGOR- Pengamat Ekonom, Gede Sandra menyayangkan sikap ego sektoral atas nama ‘independensi’ Bank Indonesia.
Padahal dari sisi kebijakan fiskal—yang dimotori oleh tim ekonomi pemerintah—kinerja keuangan negara per April sebenarnya menunjukkan performa yang sangat impresif.
Penerimaan negara tercatat tembus Rp918 triliun, dengan belanja Rp1.024 triliun (defisit terkendali di angka 0,64% atau Rp164 triliun).
Hebatnya, untuk pertama kalinya setelah sempat negatif di kuartal pertama, Keseimbangan Primer Indonesia berhasil mencetak SURPLUS! Neraca perdagangan pun terus menunjukkan tren positif.
Namun, semua prestasi kinclong di sektor riil dan fiskal tersebut mendadak mentah akibat kebijakan BI.
”Kita melihat ada seperti kebijakan fiskal ini dinegasikan. Dibatalkan oleh otoritas moneter! Harusnya bareng-bareng kesana, moneternya kok kayak mau negasikan,” gugat Gede Sandra heran melihat ketidaksinkronan intervensi moneter tersebut.
Selain faktor salah urus suku bunga, Gede Sandra membeberkan variabel krusial lain yang membuat Rupiah diamuk pasar global: Dedolarisasi.
Langkah agresif BI dalam memperluas Local Currency Transaction (LCT) dan penggunaan QRIS antarnegara demi mendepak ketergantungan pada Dolar AS ternyata memicu konsekuensi besar.
Manuver ini membuat para pemilik modal raksasa dari Amerika Serikat gerah.
”Aktivitas dedolarisasi ini tidak disukai sebenarnya oleh modal-modal dari negeri dolar, dari Amerika, ya. Jadi ini juga salah satu faktor yang mendorong (pelemahan rupiah),” ungkapnya.
Di level global, runtuhnya era Petrodolar setelah 50 tahun berjaya dan ekspansi blok BRICS yang menggunakan mata uang lokal telah memaksa terjadinya inflasi gila-gilaan di dalam negeri AS sendiri.
Akibatnya, Bank Sentral AS (The Fed) terpaksa mengerek suku bunga mereka tinggi-tinggi demi menyelamatkan ekonominya, memicu penarikan modal masif dari seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia.
Belajar dari Taktik 4 Langkah Brazil
Meski kondisi saat ini di ujung tanduk, Gede Sandra menyebutkan dedolarisasi bisa menjadi obat jangka panjang yang menstabilkan ekonomi, asalkan moneter dan fiskal mau berjalan seirama.
Ia mendesak pemerintah dan BI meniru 4 jurus sukses Presiden Brazil Lula da Silva pada tahun 2002-2003 yang berhasil meloloskan negaranya dari lubang jarum:
Target Surplus Keseimbangan Primer yang Tinggi (Sudah dieksekusi dengan baik secara fiskal).
Reformasi Anggaran dan Efisiensi Program (Langkah efisiensi anggaran ketat, termasuk penyesuaian pada program makro).
Mengurangi Ketergantungan Dolar sebagai solusi stabilitas jangka panjang.
Komitmen Pengetatan Anggaran (Austerity).
”Dengan empat langkah ini, akhirnya Brazil tahun 2002 lolos. Begitu persepsi pasar membaik, kurs menguat, inflasi turun, barulah kemudian Bank Sentral Brazil menaikkan suku bunga. Gak ada masalah setelah itu,” pungkas Gede Sandra menutup analisanya.
Kini bola panas ada di tangan Bank Indonesia: Apakah akan terus keras kepala dengan ego independensinya, atau mau melunak dan menyelaraskan langkah dengan kebijakan fiskal demi menyelamatkan mata uang Garuda?




