Anomali Cuaca di Bogor: Hujan Lebat di Tengah Musim Kemarau

Anomali Cuaca Kota Bogor. (Dok. BT/M Rizki Pratama)

bogortraffic.com, BOGORAnomali cuaca melanda wilayah Bogor, baik di kota maupun kabupaten, dengan hujan sedang hingga lebat meski sedang dalam periode musim kemarau.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Citeko Bogor, Fatuhri Syabani, menyatakan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di Bogor, tetapi juga di wilayah lain di Jawa Barat.

Berita Lainnya

“Curah hujannya bisa dikatakan anomali, dalam arti lebih besar dari rata-rata dasariannya (10 harian),” kata Fatuhri kepada wartawan pada Rabu (10/7/2024).

Fatuhri menjelaskan bahwa anomali cuaca ini disebabkan oleh gangguan atmosfer yang sedang terjadi di wilayah Indonesia. Salah satu fenomena yang berkontribusi adalah Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer dengan periode 40-60 hari yang saat ini menghampiri wilayah Indonesia.

“Fenomena MJO ini tipikalnya membawa pergerakan atau propagasi kumpulan awan-awan hujan,” jelasnya.

Selain itu, gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby Equatorial yang melintas di sekitar kepulauan Indonesia juga turut menambah pasokan uap air ke wilayah Indonesia.

“Ini juga turut menambah pasokan uap air ke wilayah Indonesia,” tambahnya.

Faktor lain yang berkontribusi adalah suhu permukaan laut yang hangat di sekitar perairan Indonesia, menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan awan hujan.

Berdasarkan analisa tersebut, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca yang memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat petir dan angin kencang di beberapa wilayah Indonesia pada 8-14 Juli. Wilayah yang diperkirakan terdampak meliputi sebagian besar Sumatra, sebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

“Khusus untuk Pulau Jawa, potensi hujan akan menurun mulai periode tanggal 11 Juli 2024,” ujar Fatuhri.

Menanggapi anomali cuaca ini, sejumlah wilayah rawan bencana mulai bersiaga. Pemerintah Kecamatan Leuwiliang, misalnya, telah mengambil langkah-langkah antisipatif. Camat Leuwiliang, WR Pelitawan, menyatakan bahwa pihaknya telah meminta setiap desa di wilayah Leuwiliang untuk siaga dan mengimbau masyarakat melalui kepala desa masing-masing.

“Imbauan masyarakat melalui kepala desa untuk waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana, terutama pada titik rawan bencana di wilayahnya masing-masing,” kata Pelitawan kepada wartawan.

Pelitawan juga meminta seluruh kepala desa tetap menjaga jalur koordinasi dengan SKPD dan pihak terkait dalam rangka kesiapsiagaan kebencanaan.

“Hari ini ada rakor dengan kepala desa serta SKPD/UPT, prihal siaga bencana ini juga akan kami sampaikan dalam kegiatan tersebut,” tuturnya.

Adapun titik rawan bencana di Kecamatan Leuwiliang meliputi empat desa: Desa Purasari, Desa Puraseda, Desa Pabangbon, dan Desa Cibeber II.

Dengan langkah-langkah siaga ini, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana akibat anomali cuaca yang terjadi.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan