Kunci Efisiensi Industri Konstruksi, Kualitas Koordinasi dan Standar Kerja Harus Dibangun Sejak Awal

Pakar manajemen konstruksi Jean Dee tegaskan pentingnya koordinasi matang sejak awal untuk cegah pembengkakan biaya proyek.

bogortraffic.com, JAKARTA – Sektor konstruksi menyumbang 9,81 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan I 2026. Di tengah tantangan pasar properti yang mengalami kontraksi, peningkatan efisiensi dan tata kelola project delivery menjadi krusial agar terhindar dari pemborosan biaya maupun waktu akibat pekerjaan ulang.

Construction project management specialist, Jean Dee, mengungkapkan bahwa akar persoalan keterlambatan proyek sering kali berawal dari keputusan serta koordinasi yang belum matang sebelum pekerjaan di lapangan dimulai.

Bacaan Lainnya

“Ketika sebuah proyek mengalami keterlambatan atau pekerjaan harus diulang, pertanyaannya tidak seharusnya berhenti pada siapa yang melakukan kesalahan. Kita perlu melihat apakah orang orang di lapangan sudah diberikan kompetensi, standar, informasi, dan kondisi kerja yang memungkinkan mereka melakukan pekerjaan dengan benar sejak awal,” ujar Jean Dee.

Data Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) dan BPS mencatat bahwa dari sekitar 8,2 juta pekerja konstruksi nasional, baru 7,8 persen yang memiliki sertifikat kompetensi formal. Meski demikian, Jean Dee menekankan bahwa peningkatan kompetensi harus diimbangi dengan standar kerja dan pola supervisi yang berorientasi pada pencegahan masalah (preventing problems).

“Saya belum pernah menemui tim lapangan yang menolak cara kerja yang lebih baik ketika benar benar ditunjukkan caranya. Cara lama bertahan bukan karena orang menolak berubah, tetapi karena belum ada yang menggeser apa yang dianggap normal,” kata Jean Dee.

Ia mencontohkan benturan antardisiplin, seperti jalur perpipaan yang bertabrakan dengan struktur bangunan, yang sebetulnya dapat diantisipasi sebelum tahap eksekusi fisik.

“Sebagian besar pekerjaan yang harus dibangun dua kali sebenarnya bisa dicegah. Bukan dengan bekerja lebih keras, tetapi dengan membuat tim yang berbeda saling berbicara lebih awal. Banyak bentrokan lahir dari percakapan yang tidak pernah terjadi,” jelas Jean Dee.

Menurut Jean Dee, pemilik proyek memegang peranan penting dalam menciptakan ekosistem kerja yang terstruktur sejak masa perencanaan.

“Pemilik proyek yang paling efektif berhenti bertanya, ‘kenapa mereka tidak mengerjakannya dengan benar?’. Mereka mulai bertanya, ‘apakah saya sudah menciptakan kondisi agar mereka bisa?’” lanjutnya.

Secara keseluruhan, penguatan produktivitas industri konstruksi nasional memerlukan sinergi antara standar, kompetensi, serta perencanaan terpadu yang dibangun sejak awal.

“Kalau kita ingin melihat perubahan di tingkat industri, kita harus mulai dari bagaimana proyek direncanakan dan dijalankan. Kompetensi tenaga kerja penting, tetapi kompetensi tidak akan optimal jika orang bekerja tanpa standar yang jelas, koordinasi yang terlambat, atau desain yang belum matang,” ujar Jean Dee.

“Standar di sebuah proyek tidak muncul dengan sendirinya. Ia dibentuk oleh siapa yang hadir, apa yang mereka ajarkan, dan seberapa awal mereka meminta setiap orang duduk bersama. Kalau kita ingin proyek selesai sesuai rencana, cara kerja, koordinasi, dan standar itu harus dibangun sebelum pekerjaan dimulai,” tutup Jean Dee.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan