bogortraffic.com, JAKARTA — PT Metamine Integrasi Solusi menegaskan posisinya di industri teknologi pertambangan dengan menghadirkan solusi digitalisasi operasional dari hulu ke hilir. Langkah ini diambil untuk menjembatani kesenjangan (gap) yang sering terjadi antara aktivitas nyata di area tambang dan data administrasi perusahaan.
CEO PT Metamine Integrasi Solusi, Reza Arifani, menjelaskan bahwa platform besutannya, Pit to Ship, dikembangkan bukan untuk menggantikan Enterprise Resource Planning (ERP) konvensional seperti SAP atau Microsoft Dynamics. Sebaliknya, sistem ini hadir melengkapi fungsi ERP pada ranah eksekusi lapangan.
“ERP konvensional sangat kuat dalam proses bisnis dan administrasi. Namun, Pit to Ship berfokus pada operational reality di lapangan, mulai dari pit, hauling, stockpile, port, hingga shipment,” ujar Reza.
Menghubungkan Lapangan ke Sistem Secara Real-Time
Pendekatan Operational ERP yang diusung Metamine dirancang berbasis kebutuhan spesifik industri pertambangan dan terhubung langsung dengan perangkat lapangan. Menggunakan alur Capture → Connect → Analyze → Act, sistem ini mengumpulkan data operasional secara real-time melalui aplikasi, IoT, GPS, UHF RFID, integrasi jembatan timbang (weighbridge), sensor, hingga AI Vision.
Sebelum penerapan integrasi ini, proses penimbangan material kerap dilakukan secara manual atau menggunakan software terisolasi (siloed). Hal tersebut memicu antrian panjang, risiko human error, hingga keterlambatan aliran data ke kantor pusat.
Dengan integrasi RFID dan manless dispenser, identifikasi kendaraan dan pencatatan tonase berjalan otomatis tanpa pengemudi harus turun dari armada. Hasilnya, antrian berkurang, idle time dapat dipangkas, dan setiap aktivitas menghasilkan jejak digital (digital trail) yang transparan.
“Sederhananya: ERP mengelola bisnis, sementara Operational ERP membantu mengendalikan bagaimana bisnis tersebut benar-benar berjalan di lapangan. Data yang valid dan minim pencatatan manual membuat sistem menjadi single source of truth,” tegasnya.
Efisiensi Konkret: Dari Denda Demurrage Jadi Despatch
Peningkatan transparansi (visibility) operasional ini memberikan dampak finansial yang langsung dirasakan oleh pelaku industri tambang. Reza membagikan contoh kasus nyata pada salah satu klien pertambangan batubara yang kerap mengalami kerugian akibat denda demurrage (keterlambatan pemuatan kapal) karena ketidaksesuaian stok di jetty.
Setelah mengimplementasikan sistem Pit to Ship, manajemen dapat memantau level of stock dan mengatur jadwal laycan atau pemuatan tongkang (barging) secara akurat.
“Sebelumnya perusahaan selalu membayar denda demurrage yang besar akibat kurangnya stok. Dengan sistem ini, mereka dapat memonitor level stok secara presisi sehingga pengiriman tepat waktu, bahkan beberapa kali berhasil mendapatkan insentif despatch,” kata Reza.
Fitur Preventive Control dan Arsitektur Offline-First
Selain otomatisasi tonase dan lalu lintas armada, Metamine menyematkan teknologi Advanced Driver Assistance Systems (ADAS), Driver Monitoring System (DMS), dan Fuel Lock. Rangkaian fitur ini berfungsi sebagai kontrol preventif untuk menekan perilaku mengemudi yang tidak aman (unsafe behavior) sekaligus mengendalikan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Terkait tantangan konektivitas di remote area, Metamine mengadopsi arsitektur offline-first dengan prinsip Work Offline → Store Locally → Sync Automatically → Centralize Data.
“Data transaksi disimpan sementara di perangkat lokal ketika jaringan terputus dan akan disinkronisasi otomatis saat koneksi kembali tersedia. Konektivitas tidak boleh menjadi single point of failure yang menghentikan operasional,” jelasnya.
Menuju Intelligent Operation Berbasis AI
Menatap masa depan, Metamine bersiap membawa digitalisasi tambang ke tahap berikutnya: intelligent operation berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Setelah berhasil mengintegrasikan berbagai sumber data mulai dari GPS, jembatan timbang, hingga pemantauan BBM, fokus berikutnya adalah memanfaatkan advanced analytics dan AI untuk memprediksi potensi masalah seperti indikasi kecurangan, kejanggalan konsumsi BBM, hingga risiko keselamatan kerja sebelum masalah berkembang menjadi kerugian.
“Kami tidak ingin sekadar menambahkan label AI ke dalam sistem. Kami ingin menggunakan data dari operasi tambang untuk menemukan masalah yang sebelumnya tidak terlihat, lalu membantu tim mengambil tindakan lebih cepat demi meminimalkan risiko dan memaksimalkan profitabilitas perusahaan,” tutup Reza. Solusi untuk pertambangan ini dapat lebih detail didiskusikan lebih lanjut bersama team Business Solotions Metamine dengan janji temu melalui email bambang@metamine.id





