bogortraffic.com, JAKARTA – Lembaga Dakwah Masjid Agung Sunda Kelapa (LD MASK) berkolaborasi dengan Kanwil Kemenag DKI Jakarta dan BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta menggelar Seminar Nasional bertajuk “Iran dalam Perspektif Peradaban Dunia Islam” di Aula Sakinah, Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026).
Ketua Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa, Setyanto P. Santosa, menegaskan bahwa seminar ini dirancang sebagai ruang refleksi mendalam bagi bangsa Indonesia dan umat Islam secara global dalam memetik hikmah dari rekam jejak sejarah peradaban.
“Pertanyaan terpenting dalam seminar ini bukan hanya ‘Apa yang terjadi dengan Iran?’ Tetapi: ‘Apa yang dapat kita pelajari dan apa hikmah yang dapat kita ambil dari perjalanan Iran dan berbagai peristiwa dunia Islam?’” ujar Setyanto saat memberikan sambutan pembuka di Aula Sakinah, Rabu (7/10/2026).
Ia mengingatkan bahwa Iran memiliki kontribusi masif terhadap sejarah filsafat, sains, hingga kebudayaan Islam. Sementara di era modern, Iran terus diuji oleh embargo ekonomi serta tekanan geopolitik global yang menuntut kesiapan ilmu pengetahuan dan kemandirian nasional.
“Bukan untuk sekadar menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi untuk belajar. Belajar bagaimana sebuah bangsa menghadapi tekanan. Belajar bagaimana kemandirian ekonomi dibangun. Belajar bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bagian dari kekuatan nasional,” tegasnya.
Di tengah situasi dunia yang penuh ketegangan, Setyanto juga menyelipkan pesan kuat agar perbedaan sudut pandang di internal umat tidak sampai merusak ukhuwah.
“Tetapi ketika berhadapan dengan kezaliman, agresi, penjajahan, atau tindakan yang merampas hak dan martabat manusia, kita harus memiliki keberanian moral untuk membela keadilan dan kemanusiaan—siapapun pelakunya dan dari manapun datangnya,” imbuhnya.
“Jangan biarkan perbedaan memecah persaudaraan, dan jangan biarkan kezaliman mematikan keberanian kita untuk berdiri bersama bagi kebenaran dan keadilan,” serunya.
Setyanto berharap pesan dan hikmah dari seminar ini dapat diwujudkan dalam aksi nyata untuk membangun Indonesia yang berilmu, mandiri, dan berdaulat.
“Ketika kita meninggalkan ruangan ini, mudah-mudahan kita membawa pulang hikmah dan pertanyaan baru: Bagaimana kita membangun Indonesia yang semakin mandiri? Bagaimana kita memperkuat ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi? Bagaimana kita menjaga kedaulatan bangsa?” tuturnya.
“Umat yang kuat bukanlah umat yang tidak pernah menghadapi badai; umat yang kuat adalah umat yang mampu tetap bersatu, belajar dari badai, dan keluar darinya dengan iman, ilmu, dan kekuatan yang lebih besar,” pungkas Setyanto.
Seminar interaktif ini dipandu oleh moderator Zainuri Anwar serta menghadirkan empat pakar multidisiplin, yakni Khalid Al-Walid (pilar intelektual Persia), Robi Sugara (sejarah Iran kontemporer), Ichsanudin Noorsy (ekonomi ketahanan menghadapi embargo), dan Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati (peta kekuatan militer dan pertahanan).





