bogortraffic.com, PELALAWAN – Menindaklanjuti kejadian interaksi negatif antara Manusia dan Harimau Sumatra di salah satu BPPH di lanskap Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan, Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau terus melakukan pemantauan intensif.
Kepala Balai Besar KSDA Riau melalui Kepala Bidang Teknis, Ujang Holisudin, S.Hut, mengatakan bahwa berdasarkan hasil pemantauan camera trap, teridentifikasi harimau tersebut masih berkeliaran di seputaran lokasi kejadian.
“Untuk menghadirkan rasa aman dan penyelamatan individu Harimau maka dilakukan pemasangan boxtrap,” sambung Ujang.
Pada tanggal 8 September 2026, satu individu Harimau Sumatra berhasil masuk ke dalam boxtrap. Hasil identifikasi awal menunjukkan harimau tersebut diduga merupakan individu suspect man eater. Guna memastikan lebih lanjut, BBKSDA Riau telah mengirimkan sampel DNA ke Laboratorium Universitas Gadjah Mada.
“Untuk penanganan lebih lanjut ,Balai Besar KSDA Riau berkoordinasi dengan Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra (PR-HS) yang berada di Dharmasraya, Sumatera Barat akan tetapi ketersediaan kandang rehabilitasi terbatas,” kata Ujang.
Dengan mempertimbangkan kebutuhan observasi, pemeriksaan kondisi satwa, dan kemudahan proses evakuasi, BBKSDA Riau menitiprawatkan sementara harimau tersebut di Lembaga Konservasi Kasang Kulim, Provinsi Riau. Tempat ini dipilih karena memiliki sarana dan prasarana yang memadai.
Selama menjalani perawatan dan menunggu hasil pengujian DNA, harimau ditempatkan di kandang isolasi yang terpisah dari jangkauan pengunjung.
“Selama perawatan di LK Kasang Kulim, Harimau Sumatra tetap dibawah pengawasan tim Medis Balai Besar KSDA Riau bersama Tim Medis PKR Arsari serta LK Kasang Kulim guna untuk melakukan observasi dan monitoring terhadap perkembangan kondisi Harimau tersebut” tutupnya.
BBKSDA Riau menegaskan bahwa hasil pengujian DNA nantinya akan menjadi dasar utama dalam menentukan langkah pendalaman serta penanganan jangka panjang bagi individu harimau tersebut.





