bogortraffic.com, JAKARTA – Udara bersih merupakan hak setiap orang, termasuk mereka yang berlari di tengah kota maupun masyarakat yang setiap hari menghadapi paparan polusi serta dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Melalui momentum MyBCA Jakarta Running Festival (JRF) 2026, Bicara Udara (Yayasan Udara Anak Bangsa) mengajak masyarakat melihat kualitas udara bukan sekadar faktor yang memengaruhi aktivitas dan performa olahraga, melainkan juga persoalan kesehatan dan hak dasar yang perlu diperjuangkan bersama.
Sebagai Air Quality Partner JRF 2026, Bicara Udara menghadirkan peluncuran buklet edukasi Run Smart, Breathe Easy: An Air Quality Guide for Pelari Kalcer, pemantauan kualitas udara di sekitar lokasi, serta kampanye solidaritas bagi masyarakat di Kalimantan dan Sumatera.
Co-Founder Bicara Udara, Novita Natalia, menyampaikan bahwa kualitas udara harus menjadi bagian dari persiapan para pelari.
“Berlari merupakan aktivitas yang dekat dengan kehidupan banyak orang, tetapi kita juga perlu menyadari bahwa kualitas udara yang kita hirup tidak selalu ideal. Melalui kolaborasi dengan JRF, kami ingin membantu pelari memahami informasi kualitas udara dan menjadikannya bagian dari persiapan berlari. Kami juga ingin membawa pesan bahwa udara bersih merupakan kebutuhan dan hak setiap orang, di mana pun mereka tinggal,” ujar Novita Natalia.
Medical Director Jakarta Running Festival 2026, dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO, turut mengimbau para pelari agar lebih cermat memperhatikan kondisi lingkungan.
“Sebagai pelari, kita tidak bisa memilih cuaca atau kualitas udara di hari race. Tapi kita bisa memilih bagaimana mempersiapkan diri dan menjalaninya. Karena itu, jadikan informasi kualitas udara sebagai salah salah satu bahan pertimbangan. Bukan untuk membuat takut, tapi untuk membantu kita berlari lebih cerdas,” ujat dr. Antonius Andi Kurniawan.
Guna mendukung kemudahan informasi, Bicara Udara bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menghadirkan Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) Mobile di sekitar race expo, serta memanfaatkan data BMKG.
Ketua Tim Informasi Pencemaran Udara BMKG, Dr. Dwi Atmoko, menambahkan bahwa prakiraan kualitas udara dapat dipantau langsung lewat kanal resmi.
“Kualitas udara dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk cuaca dan iklim. Karena itu, BMKG menyediakan prakiraan kualitas udara yang disiarkan melalui kanal resmi pemerintah agar masyarakat dapat memantau kondisi udara dan lebih siap menyesuaikan aktivitasnya,” jelas Dr. Dwi Atmoko.
Selain itu, aksi gerakan solidaritas “Run for Clean Air: Show Your Solidarity for Kalimantan & Sumatera” digalang bersama komunitas MAD Hybrid untuk menyuarakan bahwa hak atas udara bersih harus dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.





